Monday, December 27, 2021

Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara

Sebelum Islam masuk ke wilayah Melayu Nusantara, khazanah keilmuan yang terekam dalam berbagai naskah  hingga manuskrip masih dipengaruhi oleh budaya non-Islam. Naskah dan manuskrip yang ditulis pada daun lontar, bambu, kulit kayu tersebut pada umumnya ditulis oleh para pujangga untuk kepentingan kerajaan. Di antaranya berisi tentang adat, kebiasaan, mantera, doa, ajaran kepercayaan, hingga tentang budi pekerti.  Namun kondisi khazanah keilmuan mulai  berubah setelah Islam masuk pada abad ke-XIII M. Akulturasi budaya lokal dan Islam pada gilirannya, mempengaruhi corak dan ragam pengetahuan yang terekam disejumlah media penyimpanan, semacam naskah atau manuskrip. Kandungan atau isinya terdiri dari pelbagai disiplin ilmu agama, sesuai dengan misi para pendakwahnya. 

Dari beberapa periode sejarah masuknya Islam di Nusantara beberapa abad, terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan naskah ulama Nusantara yang menghimpun berbagai macam pengetahuan. Diantara ilmu kalam (teologi), politik, fikih, filsafat,  tasawuf, hadist, tafsir, tata negara, hingga pengetahuan sosial kemasyarakatan. Selain menulisnya dengan bahasa Arab, sejumlah ulama juga menggunakan bahasa yang dipakai penduduk setempat. Misalnya  ulama Sumatera menulisnya dengan bahasa Melayu, ulama Jawa dengan bahasa Jawa Pegon, dan ulama Bugis dengan bahasa Bugis. Begitu juga dengan ulama lain yang berasal dari Sunda, Banjar, hingga Nusa Tenggara. Salah satu ulama yang disebut-sebut mengawali menulis manuskrip kitab berbahasa lokal Melayu klasik adalah Syaikh Nuruddin Al-Raniri (1054 H./1644 M.). Nama kitabnya As-Shirath Al-Mustaqim, kitab fikih mazhab Imam Syafi’i. Kitab ini dipercaya sebagai yang terlengkap dalam bahasa Melayu beraksara  Arab/Jawi dan sangat legendaris dalam sejarah  keilmuan Islam di Nusantara. Syaikh Nuruddin berasal dari Ranir atau Rander, Gujarat India. Beliau datang ke Aceh pada tahun 1637 dan mengajar  di Kesultanan Aceh,  serta didaulat menjadi mufti dan penghulu kesultanan pada masa Sultan Iskandar Tsani yang memerintah pada 1636-1641M. Al-Raniri dalam menyusun karyanya,  merujuk pada sumber  kitab fikih mazhab Imam Syafi’i. Diantaranya Minhajut Thalibin,  dan Manhaj Thullab.   

Tradisi intelektual Al-Raniri kemudian dilanjutkan muridnya, Syaikh Abdul Rauf Al-Singkili (1074 H./1663 M.). Beliau menulis kitab fikih mazab Imam Syafi’i yang diberi nama Mir’at Al-Tullab fi Tashil Ma’rifah al-Ahkam al-Syar’iyah li al-Malik al-Wahhab. Kitab ini disebut terlengkap kedua  setelah kitab fikih Al-Raniri sekaligus sebagai penyempurna dan pelengkap. Kitab Mir’at Al-Tullab berisi kajian lengkap tentang fikih muamalah menurut madzhab Syafi’i dan menjadi rujukan  utama  undang-undang perdata dan pidana Kesultanan Aceh.Tradisi intelektual Syaikh Abdul Rauf Singkili dilanjutkan muridnya, Syaikh Faqih Jalaluddin Aceh dengan menulis kitab  Umdah Al-Ahkam yang berbahasa Melayu Klasik. Selanjutnya muncul generasi berikutnya,  yaitu Syaikh Arsyad al-Banjari  yang mengarang kitab Sabil al-Muhtadin, juga berbahasa Melayu Klasik dan Syaikh Dawud Pattani dengan kitab Sullam al-Mubtadi berbahasa Melayu. Sebelumnya, pada tahun 1603 M., kitab Taj Al-Salatin juga selesai ditulis, ketika kesultanan Aceh dipegang Sultan Sayyidil Al-Mukammil (1588-1604 M.). Kitab berbahasa Melayu yang bermakna Mahkota Segala Raja-Raja ini karangan Bukhari Al-Jauhari. Ada yang menyebut dia adalah penulis parsi dari wilayah Bukhara, ada pula yang mengatakan dia berasal dari Johor yang tinggal di Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda. Kitab Taj Al-Salatin berisi nilai-nilai keagamaan yang menjadi pedoman untuk raja-raja yang memerintah kala itu. Begitu populernya kitab ini sehingga tidak hanya digunakan di Aceh saja, tapi juga di semenanjung tanah melayu dan juga dikalangan kraton di Jawa. 

Perkembangan naskah keilmuan Islam makin massif  terjadi pada pertengahan abad ke-XIX, ketika sejumlah ulama Melayu Nusantara, khususnya dari Jawa, pulang dari pengembaraan intelektualnya di jazirah Arab. Ratusan khazanah keilmuan dari berbagai disiplin ilmu pada medium yang bernama kitab turats makin tersebar, dan dijadikan referensi serta  kurikulum diberbagai pesantren di Nusantara.  Singkatnya, mata rantai keilmuan keislaman Melayu Nusantara  bersambung dengan tradisi intelektual di dua tanah suci, Makkah dan Madinah. 
Bersambungnya sanad keilmuan ulama Melayu Nusantara ini, mengutip KH Maimoen Zubair dalam pengantar pada buku Masterpiece  Islam Nusantara, bermula setelah Syaikh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 973 H./1566 M.) mengabdikan diri di Masjidil Haram untuk mengamalkan ilmunya. Halaqah keilmuan yang ramai di Masjidil Haram ini, pada akhirnya memunculkan sosok  Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

Diantara murid Syaikh Zaini Dahlan ini yang masyhur adalah Sayyid Abu Bakar Syatha (1266 H/1849 M), pengarang kitab I’anatu al-Thalibin syarah Fath al Mu’in karya Al-Malibary.  Pada Sayyid Abu Bakar Syatha inilah para ulama Melayu Nusantara pada berguru dan mencecap semua ilmunya. Di antaranya Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Mahfudz Termas, KH Sholeh Darat, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Ahmad al-Fathani, Tuan Hussin Kedah, Datuk Ahmad Brunei, Syaikh Ustman Sarawak, Syaikh Ustman bin Aqil Betawi,  dan masih banyak lagi. Bisa dibilang, Sayyid Abu Bakar  Syatha ini gurunya ulama Melayu Nusantara. Berdasar kitab Tasynif al-Asma’ bi Ijaza al-Syuyuh wa al-Asma’ karangan Syaikh Mahmud al-Mashri, salah satu murid terdekat Syaikh Yasin al-Fadani, lebih dari 30 ulama asal Melayu Nusantara yang pernah belajar dan berkarir di Masjidil Haram. Pada masa Sayyid Abu Bakar Syatha, keberadaan ulama Melayu Nusantara di Makkah memiliki peran strategis. Mereka tidak hanya mencapai taraf intelektual terkemuka  di Timur Tengah, khususnya di kawasan Hijaz, tapi juga berperan dalam proses transmisi Islam dan ketersambungan sanad ke Nusantara.  Bukan hanya itu, para ulama Melayu Nusantara juga pada akhirnya diakui sebagai peletak pondasi pertumbuhan pesantren di Nusantara. Dari tangan para ulama ini juga terbit beberapa kitab rujukan dunia Islam. 

Syaikh Nawawi al-Bantani misalnya, ulama yang lahir di Tanara Serang Banten  pada tahun 1230 H./1813 M. ini, sedikitnya telah menulis 115 lebih kitab dalam bahasa Arab yang meliputi tauhid, fikih, tasawwuf, tafsir dan hadist. Diantara karyanya yang populer di pesantren adalah Qami'u al-Thugyan, Nashaih al-'Ibad dan Minhaj al-Raghibi dalam bidang tasawuf. Sementara dalam ilmu fikih ada Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, dan Kasyifah al-Saja. Kealiman dan produktifitas dalam menulis inilah yang membuat Syaikh Nawawi al-Bantani mendapatkan gelar Sayyid  al-Ulama al-Hijaz (pemimpin ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (imam yang mumpuni ilmunya), dan  Imam Ulama al-Haramain ( (Imam 'Ulama dua kota suci).  Ulama Nusantara yang belajar ke Tanah Suci pada abad pertengahan hingga akhir abad ke-XIX M. hampir pasti pernah belajar ke Syaikh Nawawi al-Bantani. Para muridnya yang kembali ke tanah air tersebar di berbagai penjuru Nusantara dan berkutat dalam dunia pesantren. Hingga kini, hampir pasti tidak ada satu pun pesantren yang tidak mengkaji dan  bersentuhan dengan karya-karya Syaikh Nawawi al-Bantani. 

Tradisi intelektual Syaikh Nawawi juga  dilanjutkan muridnya , yaitu Syaikh Mahfudz al-Tarmisi, yang menulis kitab Hasiyah al-Tarmasi dalam bahasa Arab. Juga  dilanjutkan sahabatnya, Sayyid Ustman Batavia dengan kitabnya Irsyad al-Anam dalam bahasa Melayu dialek Betawi, dan Syaikh Sholeh Darat dengan kitabnya Majmu’ah al-Syarifah dalam bahasa Jawa. Tradisi intelektual dan produktifitas menulis kitab ini dilanjutkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri dan Rais Akbar Jam’iyah Nahdhatul Ulama. Diantara sejumlah karya Syaikh Hasyim Asy’ari, ada lima karyanya yang paling melegenda. Yaitu Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah, Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin, Adab al-alim wal Muta'allim, Al-Tibyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan dan  Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab yang terakhir itu pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar beliau tentang Nahdlatul Ulama.

Ada yang menarik pada literasi keilmuan Islam di Melayu Nusantara. Karya-karya unggulan tersebut tidak hanya ditulis oleh ulama Nusantara saja, tetapi juga ditulis ulama yang berada di luar Nusantara, tapi membahas permasalahan keislaman yang berkembang di Nusantara. Misalnya Al-Jawabat al- Gharawiyyah li Al-Masail al-Jawiyyah al- Juhriyyah yang ditulis Syaikh Ibrahim Kurani (1070 H./1659 M.). Kitab ini berisi fatwa untuk masalah Islam Nusantara pasca Walisongo.  Isinya berisi fatwa Syaikh Ibrahim atas lima permasalahan yang dikemukakan oleh umat Islam Nusantara dari wilayah Johor. Syaikh Ibrahim al-Kurani ini juga bisa disebut  ulama sentral dunia Islam yang berkedudukan di Madinah. Di antara muridnya ada nama  Syaikh Abdul Rauf al-Syingkili dan Syaikh Yusuf al-Makassari, ulama asal Makasar yang diasingkan Belanda hingga akhirnya meninggal di Afrika Selatan. 

Sumber Pustaka:   

A. Ginanjar Sya’ban, Mahakarya Islam Nusantara, Jakarta: 2017.  

Zainul Milal Bizawi, Masterpice Islam Nusantara, Jakarta: 2016.

 


 


Saturday, October 19, 2019

Pagelaran PW MATAN DKI Jakarta

Eforia kemajuan digitalisasi, membuat laju kebebasan berasumsi seseorang kian tak terbendung. Misalnya, mengungkapkan prespektif individu di media sosial, yang bebas-lepas. Dengan tidak adanya kontrol, atau asupan nutrisi spiritual yang cukup pada generasi milenial, membuat banyak warta yang berseliweran terwarnai benih positivisme dan radikalisme yang pragmatis. Pada akhirnya, menjebak masuk dalam pusaran paham hedonisme. Hal ini pun, sudah real masuk ke lingkungan beberapa perguruan tinggi. Disain pergerakan mahasiswa dan fenomena yang demikian, telah menjadi keprihatinan banyak kalangan.

Mahasiswa sudah teridentik dengan sosok control agent dan social agent of change, baik dalam tatanan sosial politik maupun dalam menciptakan terobosan sistem dalam bentuk tindakan dan gerak sosial. Sudah semestinya, dengan kemampuan intelektualnya atau sikap kritisnya, akan mampu melahirkan gagasan baru, juga perubahan yang luar biasa.

Untuk mengimbangi kegesitan rasional yang demikian, perlu kemapanan kerohaniaan yang kokoh. Yakni, berupa nilai-nilai spiritual dan moralitas yang mulia. Ketua PW MATAN DKI Jakarta, DR. KH. Ali M. Abdillah pernah mengungkapkan bahwa, "Sesungguhnya ilmu hakikat bagian integral dari ilmu syariat (fikih) yang tidak bisa dipisahkan, ibarat ilmu hakikat sebagai keris (isi) sedangkan ilmu syariat sebagai warongko (wadah)." Dengan kata lain, ajaran-ajaran thariqah perlu diperkenalkan kepada kalangan mahasiswa, dan lingkungan perguruan tinggi. Karena, thariqah merupakan sebuah disiplin ilmu yang salahsatunya mengurai hal ikhwal ragam nafsu dan sifat-sifatnya, serta kiat untuk mengontrolnya. Alhasil akan membentuk rohani yang kokoh, berdasarkan kejernihan berpikir dengan landasan kemapanan spiritualnya.

Pagelaran tahunan dari PW MATAN DKI Jakarta, yang bertajuk Suluk MATAN (Sultan) 1.5, mengusung tema "Membangun Spiritualitas, Intelektualitas dan Kemandirian Generasi Teknologi 4.0." Rencanannya, akan digelar di Al-Rabbani Islamic College, Bogor pada tanggal 25-27 Oktober 2019. Adapun materi khidmat ilmiah yang akan dikupas antara lain: "Peran dan Praktek Tarekat Dalam Wushul Illallah" oleh Dr. KH. Ajid Thohir dari Ketua PW MATAN Jawa Barat, "Menggali Potensi Spiritual Menuju Sang Ilahi" dipandu oleh Dr. KH. Ali M. Abdillah dari Sekretaris Idaroh Aliyyah JATMAN, "Membangun Semangat Kewirausahaan" dengan pemateri Dr. Imam Gunawan, MAP dari Kemenpora, "Islam, Pancasila dan Kerukunan Berbangsa" oleh Dr. KH. As’ad Said Ali dari Cendikiawan NU, "Peran Kaum Tarekat Dalam Melawan Kolonialisme Dan Membangun Peradaban" diisi oleh Dr. KH. Ahmad Baso, "Pengenalan Sistem Organisasi MATAN" dijelaskan oleh Idris Wasahua, S.H, M.H dari Lajnah Advokat JATMAN, "Peran Pemuda Dam Mahasiswa Dalam Melawan Kelompok Radikal Dan Anti NKRI" diurai oleh Brigjen. Ir. H. Hamli, M.E dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Harapannya, akan lahir generasi milenial dikalangan mahasiswa yang spiritualnya mapan, berintelektual jernih, dan mampu menjadi pewarna ekonomi di era teknologi 4.0. Berbanding lurus dengan pernyataan Rois Aam JATMAN Maulana Habib M. Lutfi bin Ali bin Yahya, "Thariqah ini bukan mengandalkan lafadz laaillaha illallah saja, kalau ideologi kita kuat adalah pembentukan sumber daya manusia (SDM), sejauh mana kita bisa mengelola wafima rozaqnaakum? ...tolong satu pesan saya, "Jangan kecewakan saya!".




Monday, December 10, 2018

Barakah & Karamah

Amaliyah nahdliyin yang sudah membumi, pada dasarnya adalah sebuah identitas kultural keagamaan yang dianut  mayoritas umat Islam di Indonesia. Sebagai warga Nahdliyin tentu memiliki ikatan bathin untuk menjaga tradisi-tradisi ibadah  maghdoh  ataupun  mu’amalah yang telah dilakukan turun temurun sejak para Wali Songo menyebarkan agama Islam ke Nusantara.

Akhir-akhir ini makin marak gerakan-gerakan yang ingin menghapus praktek-praktek ibadah yang telah diajarkan sejak zaman Rasulullah Saw, Sahabat, Tabi’in dan seterusnya sampai di masa sekarang.

Gerakan-gerakan yang ingin menghancurkan tradisi-tradisi umat Nahdliyin, muncul karena khazanah keagamaannya sangat minim, sehingga akan berputar di masalah-masalah bid’ah.

Padahal jika kelompok tersebut, memiliki ilmu yang cukup, mereka dapat memahami bahwa dzikir adalah mengingat Allah, termasuk dzikrul-maut,  membaca al-Qur’an adalah  ibadah, memanjatkan do’a merupakan wujud penghambaan kepada Sang Rahim, dan wirid adalah membaca bacaan tertentu (bagian  isi dari al-Qur’an) secara berulang-ulang dengan tujuan mendapat pancaran Ilahiyah.

Dengan sendirinya tradisi Haul dan Ziarah ke makam para Waliyullah tentu akan di absahkan, jika mereka benar-benar mengaplikasikan ilmunya. Sebagaimana dalam kaidah fiqh dikatakan sebagai: “al-Adah muhakamah ma lam yukhalif al-syar” (tradisi diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).

A. Memahami Barakah & Karamah

Secara etimologi “barakah” berasal dari bahasa Arab yaitu “barokah” yang berarti berkah atau bahagia. Sedang menurut istilah mengandung arti yang beragam, yaitu disesuaikan dengan lafadz dalam rangkaian kalimat berikutnya. Barakah antara lain mengandung makna ziyadah dan nama’ (pertambahan). Kedua arti lafadz tersebut mencakup sesuatu yang dapat diraba (hissi) dan yang tidak dapat diraba (ma’nawi), artinya berwujud nyata maupun tidak nyata secara bersamaan.

Landasan naqli mengenai adanya Barakah

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Q.S. Shad : 29)

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُالمنزلين

Artinya: “Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.
 (Q.S. al- Mu’minun : 29)

Karamah berasal dari bahasa Arab yakni “karomah” yang memiliki arti kehormatan. Sedang menurut istilah karamah adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada orang-orang shaleh atau para waliyullah. Kelebihan tersebut dapat berupa pengetahuan sebelum terjadinya suatu peristiwa atau hal-hal lainnya yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang lazim terjadi pada umumnya.

Sumber naqli tentang adanya Karamah

وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ

Artinya: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, beliau dapati makanan disisinya. Zakariya bertanya: “Hai Maryam dari mana Anda memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.”” (Q.S. Ali Imran : 37)

B. Upaya Mendapatkan Barakah & Karamah

Barakah dan Karamah pada hakikatnya sebuah rahasia Allah Swt. dan pancaran dari-Nya yang bisa diperoleh siapa saja yang dikehendaki-Nya. Setiap Muslim bisa mendapatkan barakah dan karamah ketika yang bersangkutan mampu meningkatkan kualitas Iman dan Taqwa terhadap Allah, juga meningkatkan amal kebajikannya.

Proses pencarian barakah dikenal dengan  istilah “tabarruk,” baik dengan perantara personal atau tabarruk dengan amaliyah.

Berikut sumber naqli tentang upaya mendapat barakah dan karamah

 إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya: “Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Q.S. Az-Zumar: 3)

يَا أَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوااللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.S. Al-Maidah : 35)

Rasulullah Saw. bersabda:
Barangsiapa yang melihat wjah orang Alim dengan merasa ta’dzim kepadanya, maka Allah Swt. membalas dari menglihatnya itu, malaikat yang memohon ampun untuk orang tersebut sampai hari qiamat.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang menghormati (memuliakan) kepada orang ‘Alim, maka sesungguhnya ia telah memulikanku, dan barangsiapa yang menghormatku maka sesungguhnya telah memuliakan Allah Swt., dan barangsiapa yang memuliakan Allah Swt. maka tempatnya itu adalah syurga.

Dari Asma’ binti Abu Bakar r.a berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah Saw. yang dimiliki Aisyah r.a, hingga kemudian Aisyah wafat. Ketika Aisyah wafat, maka saya menyimpannya. Dahulu  Nabi Muhammad Saw. memakainya, dan kami mencucinya untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit." (H.R. Muslim)

Dari Aisyah r.a berkata: “Bahwa Rasulullah Saw. mengobati keluarganya yang sakit dengan (barakah) surat Mu’awwidzatain." (H.R. Muslim)

C. Mengidentifikasi Dalil Haul

Haul berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti satu tahun. Peringatan haul berarti peringatan satu tahun, dan lazimnya digunakan untuk memperingati satu tahun sepeninggalan anggota keluarga. Gema haul akan lebih menggema bilamana yang meninggal itu seorang ulama besar, tokoh kharismatik dan pendiri sebuah madrasah atau pesantren.

Acara haul biasanya bervariasi; ada Tahlilan, Ta’lim atau Pengajian, Khotmil Qur’an, pembacaan Maulid Dziba atau al-Barjanzi dan lainnya. Banyak sedikit pengunjung dipengaruhi tingkat ketokohan atau kharismatik dari almarhum atau almarhumah, dan sudah dipastikan mayoritas yang hadir adalah warga nahdliyin, sedangkan yang lain biasanya adalah tamu undangan. Meraka mengunjungi haul tanpa ada paksaan, tetapi karena ikatan batinlah yang menggerakkannya.

Dengan kehadiran umat muslim yang banyak itulah, para penyelenggara biasanya memandang perlu diadakan  majlis ta’lim atau mau’izhoh hasanah untuk santapan rohani pengunjung.

Berikut sandaran amaliyah yang berhubungan dengan Peringatan Haul

Rasulullah Saw. berziarah ke makam Syuhada dalam perang Uhud dan makam keluarga Baqi’; Beliau menhaturkan salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan”
(H.R. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Al-Waqidi berkata: “Rasul Saw. mengunjungi makam para pahlawan uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syi’ib”, Rasul agak keras berucap: “As-alamu ‘alalikum bima shabartum fani’ma ‘uqbah ad-dzar (semoga kalian selalu beroleh kesejahteraan atas kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh akhirat adalah tempat paling nikmat). Abu Bakar, Umar dan Ustman melakukan hal yang serupa.

Diriwiyatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. membuat empat garis di tanah, beliau bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” Mereka (Sahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Rasulullah Saw. menjawab: “Wanita syurga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Mayam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun” Abu hatim berkata: “Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah Rasulullah Saw. ke Madinah.” (H.R. Muslim)

D. Identifikasi Dalil Tradisi Ziarah Waliyullah

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari dari Rasulullah Saw. bahwa beliau memandang gunung Uhud maka sabdanya: “Terkadang seorang lelaki dari umatku, ada yang menyamai satu huruf dari pada tasbihnya seperti gunung ini.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Saya telah melarang ziarah kubur. Maka ziaralah, sebab ziarah menjadikan zuhud di dunia dan mengingatkan pada akhirat.” (H.R. Ibnu Majah)

Syaikh Zainuddin bin Ali Al-Malaibary menuangkan dalam Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya sebagai berikut: “Dan orang-orang yang arif terhadap Tuhan mereka (waliyullah), beliau lebih afdlal dari ahli furu’ dan ushul. Sempurnakanlah pengertianmu. Maka sesungguhnya satu rakaat yang dilakukan oleh orang arif (waliyullah) itu lebih utama dari seribu rakaat dari seorang ‘alim. Maka terimalah keterangan ini.

KH. M. Sjafi’i Hadzami dalam 100 Masalah Agama mengatakan, “Kalau yang dimaksudkan alim ulama adalah mereka yang mempunyai keahlian dalam soal furu’ dan ushul saja, dan yang dimaksud dengan kata-kata: Wali adalah waliyullah, ya itulah mereka orang yang mempunyai ma’rifat kepada Allah Swt. menurut kemampuannya, yang mengekalkan atas kebaktian kepada Allah, menjauhkan segala kedurhakaan, lagi berpaling dari pada berfoya-foya di dalam kelezatan dan kesenangan, maka ketahuilah bahwa para wali itulah yang lebuh utama dari pada para ahli furu’ dan ushul yang dalam hal ini disebut: Ulama atau alim ulama. Dikarenakan  ma’rifat kepada Allah Swt. itu adalah suatu martabat yang tinggi, lebih dari pada lainnya, maka adalah orang yang memilikinya itu tentu lebih afdlal dari pada orang yang belum mencapai martabat ini dari ahli furu’ dan ushul sekaliannya.”

Sebagaimana tertera dalam kitab Jala’i al-Zhalam ‘ala ‘Aqidat al-Awwam: “Bagi setiap muslim yang hendak mencari keutamaan dan kebaikan seyogianya mencari berkah yang berserakan dan mengharapkan terkabulnya doa serta turunnya rahmat dari sisi para wali Allah, berada di majeis dan bergaul dengan mereka, baik sewaktu mereka masih hidup maupun sudah wafat, di makam atau majelis dzikirnya, mengunjungi mereka atau mendengar keutamaan dan kelebihan beliau dan mengikuti jalan hidup beliau.”



Friday, November 30, 2018

HIKAYAT SINGKAT; Ibn 'Arabi, Syaikh Siti Jenar dan Gus Dur

KATA PENGANTAR
DR. KH. Ali M. Abdillah, M.A
Al-Rabbani Islamic College (Co-Founder)

Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Mas Komarudin, selain sibuk kerja, kuliah, mengurus organisasi MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah) komisariat UNU Indonesia dan sebagai kepala rumah tangga, namun masih menyisakan waktunya untuk menulis. Semoga langkah-langkah produktif ini bisa diikuti oleh mahasiswa lainnya.

Melihat konten buku ini cukup menarik, karena membahas tokoh-tokoh controversial pada zamannya, seperti; Ibn ‘Arabi, Syaikh Siti Jenar dan Gus Dur. Ketiga tokoh tersebut memiliki titik kesamaanya itu, sama pengikut dan penyebar ilmu-ilmu hakikat. Sesungguhnya ilmu hakikat bagian integral dari ilmu syariat (fikih) yang tidak bisa dipisahkan, ibarat ilmu hakikat sebagai keris (isi) sedangkan ilmu syariat sebagai warongko (wadah). Karena kebanyakan umat Islam terlena dalam wilayah syariat saja, tanpa mau belajar ilmu hakikat, bahkan sebagian kelompok ada yang menuding sebagai ilmu yang sesat. Padahal Imam al-Ghazali sendiri dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din pada jilid pertama telah memberikan kritik terhadap ibadah shalat yang sebatas syariat saja, tapi kosong dari aspek hakikatnya. Namun demikian, dalam praktek ilmu hakikat harus tetap dalam koridor tawhid muwahhid (monoteis) bukan tawhid mulhid (panteistik). Selain itu, tetap berjalan pada syariat Nabi Muhammad SAW baik secara lahir maupun batin.

Buku ini bisa menjadi muqadimah untuk mengenal biografi dan pemikiran para tokoh kontroversi seperti; Ibn ‘Arabi, Syaikh Siti Jenar dan Gus Dur. Semoga memperoleh mutiara-mutiara yang indah.

Nagrak Cikeas, 14 Maret 2017



Saturday, November 24, 2018

SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI R.A

A. Riwayat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani R.a

Syekh Abdul Qadir Al-Jailaini r.a. dilahirkan tahun 470 H, atau bertepatan dengan tahun 1077 M, di Naif daerah Jailan (masyarakat Persia menyebutnya Kailan) Thabaristan, Iran. Jailan merupakan daerah gugusan perkampungan yang berada ditengah-tengah pegunungan Al-Buruz. Terbentang dari ujung utara sampai barat, di pesisir pantai selatan laut Qazwain, atau lazimnya dikenal masyarakat Timur Tengah, dengan Laut Putih Tengah di Iran.

Nasab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari jalur Ayahnya sampai kepada  As-Sayyid Al-Imam Al-Hammam Amir Al-Muminin Al-Hasan As-Sabth. Jalur nasabnya yaitu, Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir bin As-Sayyid Abu Shalih Musa Jankidust bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Yahya Az-Zahid bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Dawud bin As-Sayyid Musa bin As-Sayyid Abdullah Abu Al-Makarim bin As-Sayyid Musa Al-Jun bin As-Sayyid Abdullah Alam bin As-Sayyid Al-Hasan Al-Mutsanna bin As-Sayyid Al-Imam Al-Hammam Amir Al-Muminin Al-Hasan As-Sabth bin Al-Imam Al-Hammam Fakhr bin  Ghalib Amir Al-Mu’minin Sayyiduna Ali bin Abu Thalib r.a. Al-Hasan As-Sabth adalah putra As-Sayyidah Fathimah Az-Zahra Al-Bathul binti Sayyiduna wa Nabiyyuna Muhammad SAW.

Adapun Ibunda Syekh Abdul Qadir Al-Jailaini r.a. masih merupakan keturunan As-Sayyid Al-Imam Al-Hammam Sayyid Asy-Syuhada Abu Abdullah Al-Husain. Urutan nasabnya adalah As-Sayyidah Asy-Syarifah, permata keturunan Al-Husain r.a., Ummul Khair Fathimah r.a. binti As-Sayyid Abdullah Ash-Shaumi’i Az-Zahid bin As-Sayyid Abu Jamaluddin Muhammad bin As-Sayyid Mahmud bin As-Sayyid Abu Al-Atha Abdullah bin As-Sayyid Kamaluddin Isa bin Al-Imam As-Sayyid Abu Ala’udin Muhammad Al-Jawwad bin As-Sayyid Ali Ar-Ridha bin As-Sayyid Al-Imam Musa Al-Kazhim bin As-Sayyid Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq bin As-Sayyid Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin As-Sayyid Al-Imam Ali Zainal Abidin bin As-Sayyid Al-Imam Al-Hammam Sayyid Asy-Syuhada Abu Abdullah Al-Husain bin Al-Imam Al-Himmam Asadullah Al-Ghalib Muzhir Al-Aja’ib Fakhr bin Ghalib Amirul Mukminin.[1]

B. Pendidikan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani R.a

Dalam mendidik anak-anaknya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. berwasiat sebagai berikut:

“Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, janganlah kalian takut kepada selain Allah, serahkanlah semua kebutuhan kalian kepada Allah, mintalah segala sesuatu dari-Nya, janganlah kalian meyakini selain Allah, janganlah kalian bersandar kecuali kepada-Nya, hendaklah kalian mengesakan-Nya, mengesakan-Nya, dan mengesakan-Nya, karena pangkal dari sesuatu adalah tauhid, yakin kepada sifat-sifat Allah yang tertulis. Perintahkanlah dengan sifat-sifat seperti yang diwahyukan, hukum dapat berubah, sedangkan ilmu tidak berubah, hukum dihapus sedangkan ilmu tidak dihapus. Saya berwasiat kepadamu wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dan menaatinya, istiqamalah pada syariat dan menjaga batasan-Nya. Ketahuilah, wahai anakku, bahwasanya tarekat kita dibangun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, lapang dada, dermawan, saling bertegur sapa, tidak sombong, kuat menahan cacian, dan memaafkan atas kesalahan sesama saudara.”[2]

Apabila wasiat Syekh Abdul Qadir Jailani r.a. terhadap anak-anaknya diurai, maka akan ada beberapa outline, yaitu:

1. Bertakwa kepada Allah Swt. dan menaati-Nya

Dalam hal ini, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. dalam mendidik anak-anaknya menitik beratkan pada urusan pendidikan agama Islam, terutama tauhid atau takwa kepada Allah Swt. Takwa dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki makna, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Aplikasi takwa tidak hanya dalam Masjid, Musholla, Majlis Ta’lim, ataupun saat berada dalam halaqah orang-orang shalih. Akan tetapi lebih pada subtansi ketakwaan itu sendiri. Rasa bertakwa kepada Allah SWT, hendaklah diterapkan pada segala kondisi dan keadaan, baik disaat banyak orang ataupun sedang sendirian. Saat berkumpul dengan orang shalih, ataupun dikala bersosial dengan orang-orang yang salah.

Apa yang diwasiatkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. kepada anak-anaknya, berbanding lurus dengan apa yang diwasiatkan Rasulullah Muhammad Saw. disaat akan meninggal dunia. Panutan atau uswah umat manusia, Nabi Muhammad Saw. saat mau meninggal yang ditanyakan adalah “umatku… umatku… umatku, berpegang teguhlah pada Al-Qur’an dan Sunnahku, …” Beliau mengkhawatirkan ketakwaan umatnya. Rasulullah Saw. tercatat dalam sejarah, sebagai insan kamil dan khalilullah yang wafatnya tidak meninggalkan hal-hal yang relepasinya dengan duniawi.

2. Jangan Takut kepada Selain Allah Swt.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. mendidik anak-anaknya, supaya tidak takut kepada selain Allah Swt. Hal ini sesuai dengan presepsi dari Ibnu Atha’illah Al-Iskandari, yang menyatakan bahwa “Alam ini ada dengan penetapan Allah Swt., dan alam lenyap dengan keesaan dzat-Nya.”[3] Alam semesta memiliki sifat wujud dengan penetapan Allah Swt. terhadapnya, atau dengan penampakan-Nya di dalamnya. Ketetapan alam semesta bersifat relatif, karena tidak ada yang mutlak, kecuali Allah Swt.

Manusia yang hanya melihat kepada keesaan dzat Allah, maka ia tidak akan mendapati alam semesta ini tetap dan berwujud. Alam memiliki sifat tetap dengan memandang kepada keesaan-Nya. Orang-orang sufi berpandangan, bahwa keesaan maknanya adalah kemurnian, kemutlakan, dan keterbebasan dari penampakan pada alam semesta. Keesaan dalam arti, berbeda dengan ke-satu-an, karena kesatuan adalah penampakan dzat yang lahir di alam semesta. Sehingga alam semesta menjadi ada berdasarkan adanya Yang Maha Haq. Para Sufisme, mengibaratkan, “Keesaan umpama lautan tanpa gelombang, sedangkan kesatuan umpama lautan dengan gelombang.”

Dengan demikian, kenapa manusia harus takut kepada sesama manusia? padahal kita semua sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Kita diciptakan Allah Swt. sama-sama dengan dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, ada mulut, hidung, dan patologi tubuh yang sama lainnya. Air yang diminum sama, oksigen yang dihirup juga sama, sama-sama bisa melihat pepohonan, lautan, pegunungan, awan, dan lainnya. Sebagai manusia, kita sama-sama memiliki emosi, rasa sedih, sama-sama bisa menangis, sama-sama bisa merasakan lapar, sama-sama memiliki rasa kasih sayang, serta juga benci. Yang membedakan dihadapan Allah Swt., hanyalah kadar ketakwaannya. Sebagaimana difirmankan dalam surat Al-Hujarat: 13

“Inna akramakum ‘inda Allah atqakum

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah, adalah orang yang paling taqwa diantara kamu”

3. Meminta dan Menyerahkan Kebutuhan kepada Allah Swt.

Selama manusia masih bernafas, persoalan hidup selalu ada. Entah itu seorang Guru atau murid, pejabat atau masyarakat, al-ghani atau pun al-faqir. Di zaman sekarang, seringkali manusia mudah berkeluh kesah permasalahan hidupnya di media sosial, harapannya dapat perhatian dari teman atau kerabatnya. Padahal, cara tersebut tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan, justru hanya sia-sia belaka. Bagaimana mungkin kita mengadu kepada insan yang sudah pasti memiliki permasalahan hidup juga, atau tidak berdaya? yang tepat adalah mengadu dan berserah kepada Yang Maha, Allah Swt.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. dalam mendidik anak-anaknya, sesuai dengan pandangan dari Ibnu Atha’illah Al-Iskandari yang berpresepsi bahwa, “Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang do’amu, membuatmu putus asa. Karena Allah menjamin pengabulan do’a sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.”[4]

Dalam hadits qudsi, dari Sahabat Salman Al-Farisi r.a. berkata, Rasulullah Muhammad Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman:

“Idza taqarrabu ilayya al-‘abdu syibran taqarrabtu ilaihi dzira’an, wa idza taqarraba ilayya dzira’an taqarrabtu minhu ba’an, wa idza atani masyian ataituhu harwalatan.”

Artinya: “Jika hamba mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekatinya satu dzira. Dan jika hamba mendekatkan diri kepada-Ku satu dzira, maka Aku mendekatinya satu hasta. Dan jika mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari.”

Regulasi untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, idealnya adalah; berdo’a dengan tawadzu kepada Allah, berusaha dengan rasional juga optimal, dan hasil akhir diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

4. Mengesakan Allah Swt.

Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H.), seorang faqih dari Iraq yang terkenal sebagai salah seorang tokoh yang mempunyai kelebihan dari segi kepintaran juga kemurahan hati, mendefinisikan iman sebagai pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati. Sedangkan Syekh Abdul Qadir Jailani r.a memasukkan realisasi dengan anggota badan, seperti definisi Al-Sunnah wa Al-Jama’ah.[5]

“Wa na’tiqad inna al-iman qaul bi-lisan wa ma’rifat bil-jinan wa ‘amal bil-arkan yazidu bi-tha’at wa yanqash bil-‘ashyan.”

Wasiat Syekh Abdul Qadir Jailani r.a. kepada anak-anaknya untuk mengesakan Allah Swt., diulang tiga kali. Hal tersebut, dimaksudkan karena iman seorang muslim sangat labil. Ada kalanya iman seseorang bisa bertambah dengan ketaatan, serta iman seseorang bisa juga berkurang dengan berbuat maksiat.

Selain mengimani atau mengeesakan kepada Allah Swt., sebagai muslim juga diharamkan untuk menyekutukan-Nya. Karena menyekutukan atau berbuat syirik kepada Allah Swt., termasuk amaliah yang tergolong dosa besar. Bahkan dalam hadits qudsi dijelaskan, dari Abu Hurairah r.a.  bahwa:

“Rasulullah Saw. bersabda, “Pada hari Senin dan Kamis pintu-pintu surga dibuka; diampuni tiap-tiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali laki-laki yang ada permusuhan, kebencian antara dia dengan saudaranya. Maka dia dikatakan, ‘Akhirkan (tunda) pahala dua orang ini hingga keduanya berdamai. Akhirkan (tunda) pahala dua orang ini hingga keduanya berdamai.’” [6]

5. Istiqamah pada Syariat

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. merasakan getir dan susahnya bersyariat dalam menuntut ilmu. Hal tersebut disebabkan susahnya kehidupan pada masa itu, serta kondisi politik yang tidak kondusif. Beliau menghabiskan waktu tiga puluh tahun untuk mendalami ilmu agama, baik yang ushul maupun furu’. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. juga merasakan sulit, dan sempitnya hidup karena habisnya modal atau bekal yang dimilinya saat menuntut ilmu. Bahkan, seolah-olah kematian sudah menjemputnya, saat beliau tersungkur di pinggir masjid yasin di pasar Raihan, Baghdad, Iraq, karena menahan lapar.

Terkait dengan ketauladanan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. beristiqamah dalam bersyariat, disampaikan juga oleh Sulthan Al-Ulama Izzuddin bin Abdussalam bahwa, “Tidaklah sampai kepada kami riwayat yang mutawatir mengenai keramat para wali, kecuali keramat yang dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. Pasalnya, beliau adalah orang yang selalu waspada dan berpegang teguh pada hukum-hukum syariat. Bahkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. megajak orang-orang agar berpegang teguh pada syariat dan menentang setiap pelanggaran syariat. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. adalah orang yang tekun beribadah dan bermujahadah. Beliau juga memadukan dalam kesibukannya beribadah dengan hubungan-hubungan lain yang bersifat manusiawi, seperti berhubungan dengan istri dan anak-anak. Jika metode seperti ini yang beliau tempuh, sudah pasti beliau adalah wali yang kesempurnaannyamelebihi para wali lainnya. Karena, yang demikian ini adalah sifat dari pemilik syariat, Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan ini pula beliau berkata,’Kedua telapak kakiku ini berada di atas setiap lutut para wali Allah.’”[7]

6. Bertarekat dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits

Tarekat secara termilogi berasal dari kata “thariqah” yang memiliki arti jalan. Sedangkan para Ulama berpendapat tarekat adalah jalan yang ditempuh dan sangat waspada, serta berhati-hati ketika beramal ibadah. Seorang ahli tarekat tidak begitu saja melakukan rukhshah dalam menjalankan rupa-rupa ibadahnya. Amal ibadahnya selalu berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadits, atau dengan kalimat lain, disebut juga tertib syari’at. Adapun kebolehan rukhshah dalam beribadah, para ahli tarekat sangat berhati-hati saat melaksanakan amal ibadah. Diantara sikap hati-hati itu, dinamakan juga sifat wara’.

Imam Al-Ghazaly membagi sifat wara’ dalam empat bagian, yaitu; 1)  wara’ul ‘adl (wara’ orang yang adil), 2) wara’ush shalihin (wara’ orang shaleh), 3) wara’ul muttaqin (wara’ orang-orang yang takwa), dan 4) wara’ush shiddiqin (wara’ orang-orang yang jujur).

Berikut konsep Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. dalam syair, yang korelasinya bersosial dengan parameternya Al-Qur’an dan Al-Hadits:

Jika di hatimu terbesit kebencian terhadap seseorang

Jika di hatimu terbesit rasa suka terhadap seseorang

Bandingkanlah perbuatannya dengan Kitab dan Sunnah

Jika dalam pandangan keduanya baik, maka cintailah ia

Jika dalam pandangan keduanya buruk, maka bencilah ia

Karena

Kalaupun engkau harus membenci, bencimu bukan karena nafsu

Kalaupun engkau harus mencintai, cintamu bukan karena nafsu

Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu  mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Q.S Shad: 26)[8]

7. Berakhlak Ihsan

Ihsan merupakan buah dari pengamalan dan penghayatan Rukun Islam dan Rukun Iman. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan bahwa:

“Ihsan adalah mengabdi kepada Allah sepenuh hati seolah-olah engkau melihat Allah, dan meskipun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihat engkau.”

Ihsan tentunya merupakan hasil dari sebuah proses pelaksanaan syariat iman yang benar, maka jangan berharap ada buah yang bermanfaat bagi muslim yang tidak lain di namakan Ihsan. Kebanyakan, kalau membicarakan tentang syariat, kita hanya terpatri pada makna yang sempit, yaitu terbatas pada ibadah mahdlah atau ritual belaka. Begitu pula kalau bicara tentang iman, yang ada hanyalah konsep keimanan dan bukan perilaku atau subtansi dari keimanan itu sendiri.

Keimanan diumpamakan pohon yang baik (thayyibah) dan akarnya menghujam ke dalam tanah; ashluha tsabit, kokoh akarnya. Selain itu, cabangnya  pun menjulang ke langit. Dan, pohon ini memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Penjelasan tersebut, termaktub dalam al-Qur’an surat Ibrahim: 24-25.

“Alam tarakaifa dlaraba Allah matsalan kalimatan thayyibatan kasyajaratin thayyibatin ashluha tsabitun wa far’uha fi al-sama. Tu’ti ukullaha kulla hiniin bi-idzni rabbiha wa yadlribu Allah al-amtsal lin-nasi la’allahum yatadzakkarun.”

Artinya: “Tidaklah engkau perhatikan, bagaimana Allah mengumpamakan kalimat yang baik, seperti sebatang pohon yang baik, pokoknya tetap (dibumi), sedang cabangnya (menjulang ke langit). Menghasilkan buahnya tiap-tiap waktu dengan izin Tuhannya. Allah memberikan beberapa contoh kepada manusia, mudah-mudahan mereka mendapat peringatan.”

Syekh Abdul Qodir Al-Jailani r.a. melihat bahwa antara Islam dan Iman, terdapat makna dan arti, yang berbeda tidak sama. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapannya:

“wa ama al-islam fahuwa min jumlat al-iman, wa kulu iman islam wa laisa kuli islam iman.”

Artinya: “Beliau menyatakan berkaitan dengan kasus Arab Badui yang mengidentikkan dirinya dengan orang beriman namun Allah menggolongkan mereka dalam golongan orang Islam.” [9]


Footnote:
[1] Sayyed Mohamed Fadil AL-JAILANI Al-Hasani, Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani R.A (Depok: Keira Publishing, 2016), hal. 73
[2] Ibid, hal. 85
[3] Syekh Abdullah Asy-syarkawi, Al-Hikam (Jakarta: Turis, 2015), hal. 197
[4] Ibid, hal. 11
[5] Harapandi Dahri, Pemikiran Teologi Sufistik Abdul Qadir Al-Jailani (Jakarta: Wahyu Press, 2004), hal. 32
[6] Al-Hikam Abi Al-Hasan Nuruddin 'Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, Al-Ahadits Al-Qudsiyyah Ash-Shahihah, (Bandung: Gema Risalah, 2008), hal. 167
[7] Ibid, Biografi Syekh... hal. 255
[8] Ibid, hal. 92
[9] Ibid, Pemikiran Teologi... hal. 34


               Foto: Hidayatullah.com

PAULO FREIRE

A. Biografi Paulo Freire

Lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di Brasil bagian timur laut, wilayah kemiskinan dan keterbelakangan. Ayahnya bernama Joaqium Temistocles Freire, aktifitas hariannya seorang polisi militer di Pernambuco yang berasal dari Rio Grade de Norte. Dia pengikut aliran kebatinan, tanpa menjadi anggota dari agama resmi. Etikanya baik, cakap, dan mampu untuk mencintai. Ibunya adalah Edeltrus Neves Freire, berasal dari Pernambuco dengan agama Katolik, peringkainya lembut, baik budi, dan adil. Merekalah dengan ketauladan dan cintanya megajarkan kepada Paulo Freire untuk menghargai dialog dan menghormati pendapat orang lain.

Ketika krisis ekonomi Amerika Serikat 1929 mulai melanda Brasil, orangtuanya yang termasuk kelas menengah itu mengalami kejatuhan finansial sangat hebat, sehingga Freire terpaksa belajar mengerti apa artinya menjadi lapar bagi seorang anak sekolah. Pada tahun 1931, keluarga Freire terpaksa pindah ke Jabatao. Dan ayahnya meninggal dunia di Jabatao.

Pengalaman mendalam saat waktu masih anak-anak, menyebabkan Freire pada usisa sebelas tahun bertekad untuk mengabdikan kehidupannya pada perjuangan melawan kelaparan agar anak-anak lain jangan sampai mengalami kesengsaraan yang tengah dialaminya. Tertinggal dua tahun dibanding teman-teman sekelasnya, pada umur lima belas tahun Freire lulus dengan nilai pas-pasan untuk dapat masuk sekolah lanjutan. Setelah situasi keluarganya agak membaik, Paulo Freire mampu menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan masuk Universitas Recife denga mengambil fakultas hukum. Dia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa sambil menjadi guru penggal-waktu bahasa protugis di sekolah lanjutan. Pada saat itu Paulo Freire banyak membaca karya-karya di bidang yang diminatinya.

Tahun 1944 Freire menikah dengan Elza Maia Costa Oliviera, seorang guru sekolah dasar yang berasal dari Recife. Dari pernikahannya lahir tiga orang putri dan dua orang putra. Dia mengatakan bahwa dalam masa itu perhatiannya mengenai teori-teori pendidikan mulai tumbuh, sehingga lebih banyak membaca tentang pendidikan daripada tentang hukum, di bidang tempat dia merasa hanya sebagai mahasiswa rata-rata saja. Setelah lulus sarjana hukum, untuk mandapatkan pangkalan sumber penghidupan, dia bekerja sebagai pejabat dalam bidang kesejahteraan, bahkan menjadi Direktur Bagian Pendidikan dan Kebudayaan SESI (Pelayanan Sosial) di negara bagian Pernambuco. Pegalaman selama tahun 1946-1954 membawa Freire pada kontak langsung dengan kaum miskin di kota-kota. Pengalaman tersebut sangat bermanfaat dalam penelitian-penelitiannya dan pada 1961 menjadi bahan dalam mengembangkan metode dialogik dalam pendidikan. Keterlibata di bidang pendidikan orang dewasa juga dimasukkan dalam seminar-seminar yang dipimpinnya dan dalam sejarah filsafat pendidikan yang diberikannya di Universitas Recife, tempat dia memperoleh gelar doktor pada 1959.

Awal tahun 1960 banyak terjadi keresahan sosial di Brasil. Sejumlah gerakan pembaharuan berkembang secara serentak. Ada yang beraliran sosialis, komunis, kristen. Ada yang bergerak di kalangan mahasiswa, ada yang bergerak di kalangan seniman, buruh dan petani. Masing-masing digerakkan oleh tujuan kepentingan politik. Era itu Brazil memiliki penduduk sekitar 34,5 juta jiwa da hanya 15,5 juta yang dapat memiliki hak suara dalam pemilu. Hak tersebut dikaitkan dengan dengan kemampuan orang untuk menuliskan namanya sendiri.

Setelah Presiden Janio Quadros digantikan oleh Joao Goulart pada 1961, Freire ditugaskan menjadi Direktur Pelayanan Extension Kultural Universitas Recife yang menerapkan program kenal aksara di kalangan petani di daerah timur laut. Bulan Juni 1963 sampai Maret 1964, Fiere bekerja dengan tim-timnya untuk seluruh Brasil, dan berhasil menarik kaum tuna aksara untuk belajar membaca dan menulis dalam waktu cukup singkat, yaitu 45 hari. Selain  mereka mengenal aksara, dibangkitkan juga kesadaran politik; mereka berpartisipasi aktif dan secara nyata ikut menentukan arah perkembangan bersama. Riwayat hidup Freire di atas ditulis oleh Denis Collins dalam bukunya His life, works, and thought.

Tanggal 31 Maret 1964, kudeta militer terjadi di Brasil, dan Friere dipenjarakan dengan tuduhan menjalankan kegiatan subversif. Dia akhirnya dibebaskan setelah mendekam di penjara selama 70 hari, selama di penjara Freire dapat menyusun buku penting pertamanya dalam bidang pendidikan dengan judul Educacao como Practica de Liberdade (Pendidikan sebagai Pelaksanaan Pembebasan). Pembebasan Freire bersyarat harus meninggalkan Brasil, selanjutnya bertolak ke Cile tempat dia bekerja selama 5 tahun. Program-programnya di restui Presiden Eduardo Frel, dan menjadikan perhatian UNESCO karena dianggap salah satu dari lima negara di dunia yang berhasil memberantas tuna aksara.

Menjelang tahun 1970, Amerika Serikat mengundang Freire untuk mejadi Tenaga Ahli Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial serta Guru Besar Tamu di Pusat Studi Pendidikan dan Pembangunan, Universitas Harvard. Amerika Serikat tengah dilanda banyak huru-hara, mulai bentrokan rasial sampai oposisi terhadap keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam perang Asia. Freire melihat bahwa dikucilkannya orang-orag yang tidak berdaya, baik dibidang ekonomi, sosial, budaya maupun politik, bukan hanya karena monopoli Dunia Ketiga, tetapi juga terdapat di negara maju. Sejak itu pula masalah kekerasan menjadi tema penting dalam tulisan-tulisan Freire, seperti dalam karyanya “Cultural Action for Freedom (Cambridge, Mass:1970) dan “Pedagogy of the Oppressed (1970).

Freire kemudian bekerja sebagai penasehat khusus Kator Pendidikan Dewan Gereja se-Dunia di Jenewa. Disini, berkesempatan mengadakan perjalan keliling ke negara lain dan banyak membaktikan kegiatan untuk mendampingi pelbagai program yang dijalankan negara berkembang. Menjabat juga sebagai Ketua Komite Eksekutif Institut d’Action Culturelle (IDAC) yang berpusat di Jenewa.

Paulo Freire baru boleh pulang ke Brasil, sewaktu Joao Batista Figuelredo menjabat Presiden di tahun 1980. Freire bergabung dengan Partai Buruh di Sao Paulo, dia diangkat juga sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Campinas dan Universitas Katolik Sao Paulo.

Tahun 1986, Elza Maia Costa Oliviera meninggal dunia. Freire kemudian menikah lagi dengan Ana Maria Araujo, mantan mahasiswanya yang tetap meneruskan kegiatan dalam pendidikan radikal. Tahun 1988, Partai Buruh keluar sebagi pemenang dalam pemilu di Brasil. Freire diangkat menjadi pimpinan Sekretariat Pendidikan untuk Kota Sao Paulo yang diemban selama dua setengah tahun.

Pada tahun1991 berdiri Institut Paulo Freire di Sao paulo dengan kelompok inti 21 cendikiawan yang tersebar di 18 negara, institut menyimpan arsip-arsipnya. Selain Pedagogy of the Oppressed,  Freire masih terus menghasilkan karya tulis, diantaranya: Pedagogy of the City (1993), Pedagogy of Hope (1995), Pedagogy of Heart (1997), Pedagogy of Freedom dan terakhir Pedagogy of Indigation. Tepatnya tanggal 2 Mei 1997, Paulo Freire meninggal dunia di RS Albert Eistein, Sao Paulo. Dia wafat dalam usia 75 tahun akibat serangan jantung. Selain tulisan, Paulo Freire juga mewariskan keteladanan hidup sebagai pribadi yang terbuka, jujur, lugas, kreatif, dan penuh perjuangan.

B. Pembenaran bagi Pendidikan Kaum Tertindas

Kalau masalah humanisasi secara aksiologis selalu dipandang sebagai masalah utama manusia, maka sekarang memiliki watak sebagai suatu keprihatinan yang tidak dapat dihindarkan. Keprihatinan masalah humanisasi akan membawa pada pegakuan adanya masalah dehumanisasi, bukan sebagai sebuah ontologis, tetapi juga sebagai realitas sejarah. Dalam konteks konkret dan obyektif, masalah humanisasi dan dehumanisasi merupakan kemungkinan yang selalu tersedia bagi seseorang sebagai makhluk yang menyadari ketidaksempurnaanya.

Sepanjang humanisasi atau dehumanisasi merupakan pilihan-pilihan yang nyata, maka hanya yang pertama itulah sebagai fitrah manusia. Fitrah inilah yang selalu diingkari, lewat perlakuan tidak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas.

Dehumanisasi bukan saja mereka yang telah dirampas kemanusianya, tetapi mereka yang telah merampasnya adalah sebuah penyimpangan fitrah untuk menjadi manusia sejati. Peyimpangan ini terjadi sepanjang sejarah, namun bukan suatu fitrah sejarah. Mengakui dehumanisasi sebagai suatu fitrah sejarah, akan membawa kepada suatu sinisme atau sikap putus asa menyeluruh. Dehumanisasi merupakan fakta sejarah yang konkret, bukanlah suatu takdir yang tinggal diterima begitu saja tetapi merupakan suatu hasil dari suatu tatanan tidak adil yang melahirkan kekejaman pada kaum penindas, yang kemudian melahirkan dehumanisasi terhadap kaum tertindas.

Cepat atau lambat keadaan yang kurang manusiawi akan mendorong kaum tertindas untuk melakukan perlawanan. Supaya perjuangan bermakna, maka dalam berusaha merebut kembali kemanusiaan, kaum tertindas tidak boleh berbalik menjadi penindas, tetapi memulihkan kembali kemanusiaan keduanya.

Berbagai usaha memperlunak kekuasaan kaum penindas dengan alasan untuk lebih menghormati kelemahan kaum tertindas hampir selamanya mewujudkan diri dalam kemurahan hati palsu. Demi keberlangsungan pameran kemurahan hati, maka kaum penindas harus mengekalkan ketidakadilan.

Kemurahan hati yang sejati justru terdapat dalam upaya menghancurkan sumber-sumber penyebab yang telah menghidupi kedermawaan palsu, dan menjadi tangan-tangan manusiawi yang bekerja dan mengubah dunia. Dengan berjuang menata kembali kemanusiaan, sebagai pribadi atau anggota masyarakat, sesungguhnya tengah berusaha menegakkan kembali kemurahan sejati. Siapakah yang dapat memahami pentingnya arti kebebasan lebih baik?

Perjuangan kaum tertindas, terkadang bukannya mengusahakan pembebasan, tetapi cenderung menjadikan dirinya menjadi penindas kecil. Struktur pemikiran mereka telah dibentuk oleh kontradiksi dalam situasi eksistensial yang konkret. Tujuan perjuangan kaum tertindas memang menjadi seorang manusia, tetapi bagi mereka menjadi manusia adalah menjadi seorang penindas. Pandangan mereka tentang manusia baru bersifat individualistis, karena identifikasi mereka dengan kaum penindasnya, mereka tidak memiliki kesadaran tentang diri sebagai seorang pribadi atau sebagai anggota yang tertindas.

Salah satu unsur dalam hubugan antara kaum penindas dengan kaum tertindas adalah adanya pemolaan. Setiap pemolaan merupakan pemaksaan pilihan seseorang terhadap orang lain, mengubah kesadaran orang yang dipola agar cocok dengan kesadaran orang yang memilih pola itu. Oleh karena itu, perilaku kaum tertindas adalah suatu perilaku terpola, menuruti apa yang telah digariskan oleh kaum penindas.

Kaum tertindas yang menginternalisasi citra diri kaum penindas dan menyesuaika diri dengan jalan pikiran penindas, akan mengalami rasa takut menjadi bebas. Padahal kebebasan menghendaki mereka menolak citra diri serupa itu dan menggantinya dengan perasaan bebas serta tanggung jawab. Kebebasan diperoleh dengan direbut, bukan dihadiahkan, dia harus diperjuangkan dengan segenap keteguhan hati dan perasaan bertanggung jawab. Kebebasan bukanlah sebuah impian yang berada di luar diri manusia, juga bukanlah sebuah gagasan yang kemudian menjadi mitos. Dia merupakan keniscayaan dalam rangka mencapai kesempurnaan manusiawi.

Langkah pertama kali dalam mengenali situasi penindasan adalah dengan memahami secara kritis sumber penyebabnya, selanjutya melakukan tindakan perubahan dimana mereka dapat menciptakan situasi yang baru, situasi yang memungkinkan terciptanya manusia yang lebih utuh. Meskipun demikian, untuk kaum tertindas yang telah menyesuaikan diri dalam struktur penindasan di mana mereka tenggelam dan pasrah terhadapnya, sepertinya tidak usah mencoba memperjuangkan kebebasan selama merasa tidak mampu menanggug resiko yag harus dihadapinya.

Kaum tertindas mengidap sikap mendua yang tumbuh di dalam diri mereka, mengerti bahwa tanpa kebebasan mereka tidak dapat mengada secara otentik. Walaupun mereka menyadari hal itu, mereka juga takut padanya. Pertentangan itu terletak dalam memilih antara menjadi diri sendiri secara utuh atau menjadi diri yang terbelah, atara melawan kaum penindas atau tidak melawan, antara solidaritas insani atau keterasingan, antara mentaati pola-pola atau mempunyai pilihan, antara menjadi penonton atau menjadi pelaku, antara bertindak atau cukup dengan berkhayal bertindak melaluai kaum penindas, antara bersuara atau berdiam diri, terkebiri dari kemampuan berkreasi dan berekreasi, kemampuan untuk mengubah dunia. Inilah dilema menyedihkan kaum tertindas yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pendidikan untuk mereka.

Pendidikan kaum tertindas adalah sebuah perangkat agar mereka mengetahui secar kritis bahwa baik diri mereka sendiri maupun kaum penindasnya adalah pengejawantahan dari dehumanisasi. Manusia yang tampil adalah manusia baru, yang hanya dapat hidup terus jika kontradiksi penindas-tertindas telah digantikan dengan humanisasi segenap manusia.

Pemecahan seperti ini tidak dicapai melalui janji-janji idealistik. Agar kaum tertindas dapat melakukan perjuangan untuk kebebasannya, mereka harus memahami realitas penindasan, tidak sebagai suatu dunia yang tertutup di mana tidak ada pintu keluar, tetapi sebagai suatu situasi terbatas yang dapat mereka ubah. Dan tidak berarti pengetahuan kaum tertindas bahwa mereka hidup dalam hubungan dialektis sebagai antitesa bagi si penindas yang tidak dapat hidup tanpa mereka, dengan sendirinya merupakan pembebasan. Kaum tertindas dapat mengatasi kontradiksi di mana mereka terjebak hanya jika pengetahuan itu mendorong mereka berjuang membebaskan diri.

Mereka akan tetap merasa diri ketakutan, dan kalah. Selama kaum tertindas tidak menyadari sebab-sebab ini, secara fatalistik mereka akan menerima pemerasan atas diri mereka. Dalam rangka berusaha mencapai kebebasan, orang tidak boleh melalaikan sikap pasif ini atau melupakan saat-saat kebangkitan mereka.

Ketergantungan emosional total semacam ini dapat mngarahkan kaum tertindas pada apa yang disebut Fromm sebagai perilaku nekrofilis: perusakan kehidupan-kehidupanya sendiri atau sesama kawan tertindas.
Dalam seluruh tahap pembebasan, kaum tertindas harus melihat diri mereka sebagai manusia yang berjuang atas dasar fitrah ontologis dan kesejarahan untuk menjadi manusia seutuhnya. Refleksi dan tindakan menjadi kewajiban di kala seseorang tidak keliru untuk mencoba membuat dikotomi antara isi kemanusiaan dengan bentuk-bentuk kesejahteraannya.

Untuk mencapai praksis ini, disyaratkan untuk memberi kepercayaan kepada kaum tertindas serta kemampuannya untuk bernalar. Barang siapa yang tidak mempunyai kepercayaan ini, akan gagal untuk melaksanakan dialog, refleksi, komunikasi, dan akan terjerumus pada penggunaan slogan-slogan, pernyataan-pernyataan, monolog dan perintah-perintah.

Tindakan pembebasan harus memahami ketergantungan itu sebagai suatu titik lemah dan harus mencoba lewat refleksi dan tindakan untuk mengubahnya menjadi ketidaktergantungan. Pembebasa kaum tertindas adalah pembebasan manusia bukan pembebasan benda. Cara yang bear terletak dalam dialog. Keyakinan kaum tertindas bahwa mereka harus berjuang untuk pembebasan mereka adalah hasil dari penyadaran diri. Keyakinan ini tidak dapat dibungkus dan dijual, namun diperoleh melalui totalitas refleksi dan tindakan. 

Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mempertahankan sifat mendidik yang utama dalam revolusi. Para pemimpin revolusi di sepajang zaman yang telah menekankan bahwa kaum tertindas harus memahami perjuangan pembebasan mereka. Namun banyak di antara pemimpin-pemimpin revolusioner akhirnya menerapkan metode pendidikan, yang dipakai oleh kaum tertindas. Mereka menolak kegiatan pendidikan dalam proses pembebasan, tetapi mereka menggunakan propaganda untuk meyakinkan rakyat.

Perjuangan kaum tertindas dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah dihancurkan. Propaganda, manajemen, manipulasi, semua senjata pengekangan tidak dapat dijadikan perangkat bagi dehumanisasi mereka. Satu-satunya bentuk perangkat yang efektif adalah sebuah  bentuk pendidikan yang manusiawi di mana kepemimpinan revolusioner dapat membangun hubungan dialog yang ajek dengan kaum tertindas. Dalam pendidikan yang manusiawi ini maka metode bukan lagi sebuah perangkat di mana para guru (pemimpin revosioner) dapat memanipulasi para peserta didik (kaum tertindas) karena dia menggambarkan kesadaran para peserta didik itu sendiri.

Karena demikian itu, seorang pemimpin revolusi harus menerapkan pendidikan ko-intensional. Guru dan peserta didik (pimpinan dan rakyat) yang bersama-sama mengamati realitas, keduanya adalah subyek, tidak saja dalam tugas menyingkap realitas itu untuk mengetahuinya secara kritis, tetapi juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan itu. Ketika mereka memperoleh pengetahuan tentsng realitas ini melalui pemikiran dan kegiatan bersama, mereka menyadari dirinya sebagai pencipta kembali pengetahuan yang tetap. Dengan demikian kehadiran kaum tertindas dalam perjuangan bagi pembebasannya akan sesuai dengan yang diharapkan, bukan keikutsertaan semu, tetapi keterlibatan sepenuh hati.

Sumber: Paulo Freire; Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2008




Monday, October 8, 2018

Sentir Suradadi


Apabila kita melewati Jalan H.W. Daendels atau jalur pantura Suradadi-Tegal, tepatnya setelah Pasar Suradadi (± 300 m), maka akan mendapati papan reklame dari Yayasan Bina Bakti Muslimat NU. Yayasan yang bernomor statistik 411233280751 tersebut, digagas oleh Nyai Suratmi. Mengelola pendidikan formal, yaitu Taman Pendikan al-Qur'an (TPQ) Hidayatun Nur al-Munawaroh, dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA)  Hidayatul Munawaroh. Selain itu, pendidikan non-formalnya, Ta'lim Muslimat NU, Istighosah Kamis Wage, Pengajian Umum Anak-anak, dan Ibu-ibu.

Lokasinya, dari Jalan H.W. Daendels Suradadi, masuk ke utara ± 100 m dipinggir pantai utara laut Jawa. Tepatnya, di Jl. Rajungan RT. 01 RW. 14 Suradadi, Tegal. Kondisi sosialnya, teramat dinamis. Mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, atau mebuka balongan. Saat melintasi wilayah tersebut, saya mendapati masyarakat yang sedang merajut jala, mendempul perahu, menjemur ikan asin, dan rutinitas umum nelayan lainnya. 

Lazimnya kebiasaan nelayan, minuman keras menjadi minuman harian. Saat ditanya, mengapa demikian? Alasan dari mereka sederhana, biar badan hangat, saat malam hari atau kala ditengah laut. Pertanyaan berikutnya, kenapa saat berlabuh, malah meminumnya berlebih? jawabnya, karena untuk merayakan atau pesta, kembalinya para nelayan dari laut. Dan masih berjubel alibi untuk membenarkannya.

Kondisi seperti diatas, apakah membuat kendor semangat Nyai Suratmi dalam berdakwah? Tidak sama sekali, malah menganggapnya sebagai ladang ibadah. Sambil berjalan menuju gedung madrasah, beliau menyampaikan qawa'id fiqiyah: 56

عَلَى قَدْرِ الْمَنْفَعَةِ لاَ الْمَشَقَّةِ

Artinya: "Pahala tergantung pada besarnya manfaat bukan kadar kesulitan"

Bersandar pada qawa'id fiqiyah diatas, Nyai Suratmi hingga kini masih istiqomah merawat madrasahnya, dan mendidik santri-santrinya. Ajakan Nyai Suratmi kepada masyarakat sekitarnya, sangat persusif sekali. Misalnya, dia membuat ramuan minuman tradisional sendiri, untuk menggantikan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi minuman keras. Adapun, bahan yang dipakai untuk membuat minuman tersebut adalah jahe merah, kamijara/sereh, ginseng dan akar-akaran lain yang dapat membuat hangat, dan menambah stamina badan saat melaut. Opsi tersebut, diterima oleh sebagian warga. Terutama para santri-santrinya yang berprofesi sebagai nelayan. Berikutnya, tidak memungut biaya pendidikan di madrasahnya, bagi anak yatim dan yang tidak mampu. Seperti tampak difoto, Agung Fadhilah adalah anak yang ditingal wafat ayahnya pada usia tiga tahun, diasuh seperti anaknya sendiri. Saat mendaptinya, dia sedang minta restu karena mau mengikuti test masuk kerja di salahsatu perusahaan Astra Group. Selain itu, Agung juga minta kiat untuk menghindar dari teman-temannya yang kerap mengajak mabuk dirumahnya, dan ajakan faham Islam yang radikal. Sungguh sangat dekat, hubungan santri dengan gurunya. Laiaknya anak dengan orangtua.

Nyai Suratmi juga lebih mementingkan, kebutuhan madrasahnya, dibandingkan tempat tinggalnya. Rumah beliau tidak permanen. Dinding rumahnya hanya memakai papan dan triplek. Lokasinya, tepat dibibir laut. Jika laut pasang, terkadang air laut masuk kerumahnya. Namun tidak demikian dengan kondisi bangunan madrasahnya, yang sudah permanen. Ada enam kelas, dan berlantai dua. Madrasah yang semula rumah bekas, direnovasi secara bertahap dengan biaya sendiri. Ada juga bantuan dari warga yang peduli dengan perjuangannya, dan sebagian infaq dari santri-santrinya yang sudah bekerja.

Madrasah yang dikomandoi Nyai Suratmi, sudah menamatkan delapan belas angkatan. Sekarang sudah memiliki delapan dewan guru. Dengan bimbingan dari para Guru, dan bersinergi dengan Lembaga Pendidikan Ma'arif PCNU Kab. Tegal, madrasahnya mulai termanajemen dengan baik.

Pungkas dalam silaturahmi dikediamannya (Sabtu, 26 Muharam 1440 H),  beliau mengutip firman Allah Swt. dalam Q.S An-Nahl: 125

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Hanya dengan akhlaq yang baik, ajakan ke jalan yang diridlai Allah Swt. bisa diterima oleh sesama. Andai kebaikan itu dibantah atau ditolak oleh masyarakat, maka konter baliknya pun dengan edukasi yang baik. Itulah, yang diajarkan, dan diwariskan oleh para Guru-guru yang mulia di Nusantara.

Friday, October 5, 2018

Jatuh Cinta pada NU


Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya

Dahulu saya sering duduk di rumahnya Kiai Abdul Fattah, untuk mengaji. Disitu ada seorang waliyullah, namanya Kiai Irfan Kertijayan. Kiai Irfan adalah sosok ulama yang hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. 

Setiap kali bertemu saya, beliau pasti memandangiku, dan menangis. Disitu ada Kiai Abdul Fattah, dan Kiai Abdul Adzim. Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda, yang suka pakai sarung putih, baju dan kopiah putih, persis guru saya.”
“Siapa Kiai?” jawab saya.
“Habib Hasyim bin Umar,” jawab Kiai Irfan.

Saya mau mengaku cucunya, tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari atau berbohong, tapi kenyataannya memang benar, kalau saya adalah cucunya, Habib Hasyim bin Umar. Akhirnya Kiai Abdul Adzim, dan Kiai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha... beliau adalah cucunya.”
Selanjutnya Kiai Irfan merangkul, dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”
“Cerita apa Kiai?” jawab saya.
“Begini,” kata Kiai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kiai Kholil Bangkalan. Bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Sehingga, akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Disana, kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kiai Mahfudz At-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat 'alim. Kitab-kitab di Mekkah, kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kiai Ahmad Nahrawi, maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

Syaikh Mahfudz At-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kiai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kiai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”
Maka, Kiai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kiai Asnawi Kudus, Kiai Yasin dan Kiai-kiai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan, untuk bertemu Kiai Muhammad Amir, dengan diantar oleh Kiai Irfan. Kemudian langsung diajak bersama, menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

Baru saja sampai di kediaman Habib Hasyim, beliau langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah, ya Kiai Hasyim, dirikan!. Namanya, sesuai dengan apa yang diangan-angankan oleh Anda. Yakni, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, nama saya jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini, karena wujud ketawadluan Habib Hasyim.

Kemudian Kiai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut mengaji bab hadits disini. ya? Sebab Panjenengan, punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya, Kiai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan, bersama Hamengkubuwono IX. Waktu itu, beliau masih bernama Darojatun. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

Setelah dari Pekalongan, Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun, baru saja Kiai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah, Kiai Ahmad Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusan saya sama, seperti Habib Hasyim.” Lha... dua orang ini kok bisa kontak-kontakan, padahal Pekalongan-Madura lumayan jauh, dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

Akhirnya, berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5, ditempatkan di Pekalongan, sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama, dan semua Habib. Dan ternyata cerita ini, disaksikan bukan hanya oleh Kiai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Al-Aththas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

Maka dari itu, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas dengan Habib Hasyim bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dahulu kepada yang lebih sepuh, yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al- Aththas. Dan, jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib, maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak, kepada adik saya, Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowan-nya ke Habib Hasyim saja. Itulah, ulama memberikan contoh kepada kita, untuk tidak perlu saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas, wafat tanggal 14 Rajab 1347 H. Haulnya, dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelah wafatnya beliau, tepat di tahun 1350 H, Habib Hasyim bin Umar bin Yahya wafat. Setahun kemudian, 1351 H. wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas Bogor. Waktu itu, banyak para ulama-ulama besar, seperti; Mbah Kiai Adam Krapyak, dan Kiai Ubaidah. Beliau-beliau merupakan para wali Allah dan sebagai samudera ilmu.

(Disarikan dari dokumentasi ceramah Habib Luthfi bin Ali bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan, dialihbahasakan oleh Syaroni As-Samfuriy).

Thursday, September 27, 2018

Perempuan Tangguh


Berita dari Dinasti Tang (Cina) mengatakan, bahwa ada kerajaan Holing (Kalingga) yang sangat kuat, dengan kepala pemerintahan seorang Ratu. Sampai-sampai orang Ta-Shih pada tahun 674 M, mengurungkan niatnya untuk menyerang. Kerajaan Kalingga, saat itu teramat perkasa. Diberitakan pula, bahwa dibawah pemerintahan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga menjadi pemerintahan negara yang sangat menjunjung tinggi terhadap hukum. Pernah saudara dari Ratu Sima sendiri, terpaksa harus dihukum karena berani melanggar peraturan. Itulah, salah satu ketegasan Ratu Sima pada penegakkan hukum di pemerintahan Kalingga. Tentunya, hal tersebut untuk memberi tauladan kepada rakyatnya, bahwa semua warga masyarakat Kalingga, diperlakukan sama dihadapan hukum pemerintahan kerajaan Kalingga.

Selain itu, ada pula wanita tangguh nusantara yang bernama Putri Nurul A’la, adalah seorang wanita yang pernah menjadi perdana menteri di Kerajaan Islam Perlak, mendampingi suaminya Sultan Makhdum Alaiddin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat (1108-1134 M).  Sebagai perdana menteri atau kepala pemerintahan, seluruh urusan pemerintahan di bawah tanggung jawab dirinya, dan dibantu putrinya. Pada masa itu pula, pucuk pemegang keuangan negara (menteri keuangan) dimanajerialkan oleh Putri Nurul Qodimah. Ada juga, komandan perang wanita, yakni Laksamana Maharani (1170-1196 M). Seorang laksamana wanita dari Kerajaan Seudu, yang memeluk agama Islam karena dakwah santun dari Sultan Makhdum Alaiddin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat dari Kerajaan Islam Perlak. Laksamana Maharani merupakan laksamana wanita yang perkasa dan terkenal pada saat itu.

Adapula, putri tangguh nusantara lain yang bernama Dyah Gayatri, adalah istri Raden Wijaya. Pendiri dan raja pertama Majapahit. Beliau tercatat sebagai seorang Ratu yang sukses di Kerajaan Majapahit. Pemerintahan Ratu Dyah Gayatri berhasil mempersiapkan Majapahit menjadi negara terkuat di Nusantara. Tujuan menjadi Negara yang kuat itu pun, dapat terlaksana dengan lebih mudah. Pada masa pemerintahannya, Maha Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, untuk mempersatukan wilayah di nusantara. Ratu Dyah Gayatri yang terkenal dengan Raja Patni, naik tahta setelah wafatnya Raja Majapahit yang kedua, Jayanegara (1309-1328). Selain piawi dalam hal pemerintahan, dari segi spiritual pun Ratu Dyah Gayatri juga mumpuni. Sehingga
dalam perjalanannya, beliau memutuskan diri untuk menjadi seorang pertapa. Selanjutnya, perihal urusan pemerintahan Kerajaan Majapahit, diestafetkan kepada putrinya, yang bernama Sri Gitarya Tri Bhuana Tungga Dewi Jayawisnu Wardhani (1328-1350 M).

Dalam perhelatan Asian Games Jakarta-Palembang (18 Agust-02 Sept 2018) yang lalu, wanita-wanita tangguh Indonesia juga banyak berkontribusi dalam perolehan medali emas. Diantaranya; Defiana, atlet dari cabang taekwondo berhasil menyumbangkan medali emas, setelah mengalahkan Marjan Salahshouri dari negeri Iran. Selanjutnya, pada cabang panjat dinding individu dan estafet beregu, Aries Susanti Rahayu menambahkan dua medali emas untuk Indonesia. Atlet putri wushu Indonesia, Lindswell Kwok pun menambahkan medali emas di nomor taijijian dan taijiquan. Amasya Manangan dan Aprilia Santini Manangan (Manangan bersaudara), juga memberikan medali emas di cabang voli pantai putri. Sarah pun, merupakan atlet putri tangguh dari cabang pencaksilat, yang mampu menambah pengumpulan medali emas Indonesia, setelah menang telak melawan pesilat dari Laos, Vongphakdy Nong Oy.

Kisah diatas, membuktikan bahwa di Nusantara kesetaraan gender sudah dilakukan dari 1400 tahun yang lalu, dan sampai sekarang. Pria dan wanita diberikan kebebasan dalam berfikir atau berkarya. Hal ini, juga menunjukkan bahwa tatanan sosial, budaya dan pemerintahan di Indonesia sudah moderat dari tahun 600 M. Beberapa kisah juga menyebutkan, bahwa para wanita-wanita mulia lagi tangguh di nusantara, tetap menyeimbangkan antara hak dan kewajiban sebagai wanita dalam lingkup keluarga, dan sosialnya. Dengan kata lain, tetap menjaga sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan budaya lokal daerahnya.

Hasya dan teman-temannya, sedang belajar tapaktilas mengikuti panjatan-panjatan para wanita tangguh di nusantara. Mereka menjadi duta dari MTs N 1 Kab. Tegal dalam perlombaan cabang karate dan cadit di tingkat provinsi Jawa Tengah. Walau pun belum menjadi yang terbaik, namun beliau-beliau merupakan tunas-tunas Srikandi yang berpotensi. Hal tersebut dapat digapai, tentunya dengan ikhtiar yang gigih lagi kuat, dan tentunya tidak luput dari sentuhan bijak dari Saag Guru-guru pembimbingnya.

Harapannya... semoga kedepan, prestasinya makin mercusuar. Amin yra. Terimakasih kepada para Guru. Tanpa kesabaran Anda dalam membimbing, putra-putri kami belum tentu bisa demikian.
GOR Kridanggo, 21-23/09/2018


Saturday, September 22, 2018

Sultan 1.4

Sultan 1.4 merupakan kepanjangan dari Suluk, dan MATAN. Sedangkan 1.4 memiliki arti pengkaderan tingkat pertama, angkatan yang keempat. Agenda Sultan 1.4 dinahkodai oleh PW MATAN DKI Jakarta berkolaborasi dengan komisariat-komisariat dibawah naungannya, antara lain; PK MATAN UNU Indonesia, PK MATAN Universitas Negeri Jakarta, PK MATAN UIN Syarif Hidayatullah, PK MATAN Institut Pertanian Bogor, PK MATAN Universitas Indonesia. Perhelatan Sultan 1.4 digelar pada tanggal 14-16 September 2018, bertempat di Al-Rabbani Islamic College, Cikeas Bogor. Dengan mengusung tema, "Membangun Kader Berbasis Spiritualitas dan Nasionalisme untuk Menangkal Paham Radikal di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda."

Dalam agenda Sultan 1.4, peserta kader diberikan beberapa pengetahuan, wawasan dan isu-isu yang terupdate, antara lain; Memahami NU; Manhaj, Amaliyah, Fikrah & Harakah oleh KH. Sulthon Fatoni, M.Sc (Ketua PBNU), Membangun Spiritualitas Generasi Muda Melalui Praktek Tarekat oleh KH. Wahfiudin Sakam, M.B.A (Mudir 'Aam JATMAN), Mengenal MATAN sebagai Wadah Berkhidmah oleh Dr. Idris Wasahua, M.Hum (Lajnah Advokasi JATMAN), Tantangan Kader NU di Era Milenial dalam Menjaga Aswaja An-Nahdliyyah dan NKRI oleh KH. Hariri Makmun, L.c (Sekjen ICIS), Peran Pemuda dan Santri dalam Membangun Bangsa oleh Dr. Asrori Niam Sholeh, M.A (Deputi Kemenpora), Memahami Politik Kebangsaan NU dari Masa ke Masa oleh Dr. Ali Maskur Musa (Ketum ISNU), Menggali Potensi Spiritualitas sebagai Pondasi Membangun Bangsa oleh Dr. KH. Ali M. Abdillah (Sekretaris Awawl JATMAN), Arah Gerakan MATAN Kedepan oleh Mustafid, M.Hum (Staff Ahli DPR), Ancaman Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda oleh Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E (Direktur Pencegahan BNPT). Selain runtutan acara tersebut, para kader juga mendirikan qiamullaail, dzikir, sharing antar kader, dan pagi harinya diajari olahfisik oleh para mentor yang berpengalaman.

Arip Suprasetio sebagai Ketua Panitia Pelaksana menyampaikan, bahwa "Peserta Sultan 1.4 berjumlah 130 kader. Terdiri dari perwakilan UIN Syarif Hidayatullah, UI, UNJ, UIN Sunan Kalijaga, Univ. Airlangga, Univ. Tama, UNSIKA, Univ. Bung Karno, IAIN Laa Raiba, Univ. Mercubuana, Univ. Indrapasta, YPI Baitussalam, STIE IPWIJA, STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyah, Univ. Ibnu Chaldun Bogor, PP Mambabul Ulum, PP Nahdlaًtul Ulum, Univ. Esa Tunggal, IAIN Jember, Ansor Bgr, Banser Bgr, Pagar Nusa Bgr, Nurul Iman, PCNU Bogor, dan dari negeri tetangga, hadir pula perwakilan Univ. Teknologi Malaysia."

Adapun sejarah awal dari pembentukan MATAN, bermula dari diskusi ringan Minggu Sore, 2 Agustus 2009, di ndalem Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Jajaran JATMAN yang terlibat, DR. Hamdani Mu'in, M.Ag dengan KH. Dimyati Rois (Mutasyar PBNU 2010-2015). Ikut serta juga, beberapa mahasiswa saat itu; Abdul Rosyid, M. Mahfudz, Syariful Anam, Asep Syaiful Zulfikar, M. Ridlo, Kholid Abdillah, Nurul Mu'amar, Dedi Rosadi, Ubaidillah, dan Riyadli Muhlisin.
Obrolan meruncing pada fenomena faham radikalisme dan pragmatisme dilingkungan kampus. KH. Dimyati Rois pun sangat mengapresiasi gagasan dibangunnya benteng untuk mengkounternya, dengan gerakkan spiritualitas dan intelektualitas dikalangan mahasiswa.

Diskusi dilanjutkan, tepatnya pukul 21.00-22.30 wib bersama Habib Luthfi bin Ali bin Yahya (Rois 'Am JATMAN) di-ndalem beliau. Setelah mendengarkan deskripsi diskusi sebelumnya, spontan Habib Luthfi mengatakan, "Kita dirikan MATAN." Mas Hamdani Mu'in balik tanya, "Apa MATAN itu, Abah?" Beliau menjawab dengan tegas, "MATAN itu singkatan dari Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyah." Bahkan tidak berhenti disitu, Habib Luthfi pun berharap besar dari MATAN dengan mengucapkan, "Saya ingin lahir mursyid-mursyid dari MATAN." Semua peserta diskusi mengamininya. Sungguh sangat mulia dan besar harapan Habib Luthfi terhadap MATAN.[1]

Untuk mendapat keberkahan, restu dan ridlo dari para masyayikh, maka MATAN melakukan silaturahmi kepada KH. Sahal Mahfudz, KH. Mustofa Bisri, KH. Maemun Zubaer. Sosialisasi pun dilakukan kepada Mendiknas Prof. Muhammad Nuh, Menag H. Maftuh Basuni, Menhut MS Ka'ban dan Pangdam IV Diponegoro.

Atas bimbingan dari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, deklarasi MATAN dilakukan saat Muktamar XI JATMAN di Ponpes Al-Munawariyyah Malang-Jatim, 10-14 Januari 2012/16-20 Shafar 1433 H. Menyepakati bahwa MATAN sebagai Badan Lajnah Mustaqilah dari JATMAN. [2]

[1] Standar of Organisation Prosedure MATAN, hal. 3
[2] Ibid hal. 4

Sunday, September 16, 2018

Dimulai yang Teringan

Kang Ndoro, orang memanggilnya. Pemilik usaha tambal ban yang akrab dengan sesama, dan istiqomah dalam melaksanakan sholat berjama'ah.
Tujuh bulan yang lalu, anak cowok pertamanya, baru dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup.

Jelang bedug dzuhur, Mas Mul menuntun motor ke tempat usaha Kang Ndoro, karena bannya terkena potongan paku. Juga, kondisi ban luar yang sudah gundul. Disini nyata, keadilan Tuhan membagikan rizki kepada hamba-Nya. Mungkin juga, aplikatif dari Kalamullah surat Al-Insyirah: 6, yang artinya kuranglebih, "Sesungguhnya bersama kesusahan ada kemudahan." Kelihatan susah untuk Mas Mul, namun menjadi perantara kemudahan rizqi untuk Kang Ndoro.

Sesampainya, Mas Mul menyapa Kang Ndoro, "Assalamu'alaikum,Kang."
Balas Kang Ndoro, "Wa'alaikum salam ww. Ada yang bisa dibantu Mas Mul?"
Mas Mul menjawab, "Tolong Kang, saya mau nambal ban."
Kang Ndoro, "Ban sebelah mana, Mas?"
Mas Mul, "Ban belakang, tapi depan juga dicek ya! Karena kalau seminggu, sering berkurang sendiri anginnya."
Kang Ndoro sambil becanda, "Anginnya, diambil siapa Mas?"
Jawab Mas Mul, "Belum ketemu tuh! Cuacanya panas, mungkin buat ndinginin hawa." Ger... suasana keduanya, mulai mencair.

Seperti lazimnya tukang tambal ban, Kang Ndoro mengambil peralatan-peralatan untuk mendukung profesinya. Selanjutnya, saat mau ambil ember yang berisi air, langkahnya terhenti. Hal tersebut dilakukan, hanya menunggu ayam yang sedang minum di ember, yang biasa untuk menganalisa dimana letak kebocoran ban. Setelah ayam selesai minum dan sudah pergi, barulah diangkat ember tersebut. Dan media penentu kebocoran, siap melaksanakan tugas.

Mas Mul menegurnya, "Ayo... Kang! Saya mau ada perlu, lekaslah ditambal."
Jawab Kang Ndoro, "Mohon maaf ya! Tadi menunggu selesai ayam minum, Mas Mul." Sanggah Mas Mul, "Apa kaitannya terhadap ban saya dengan ayam itu, ya Kang?"
Jawab Kang Ndoro dengan nada rendah dan enteng, "Tidak ada sih, ini kaitannya dengan saya."
Mas Mul dengan rasa heran bin bingung, menanyakan "Kenapa begitu, Kang?"

Sambil menarik nafas dalam-dalam, selanjutnya dikeluarkan dengan pelan-pelan, Kang Ndoro menjawabnya, "Hari ini saya belum bershodaqoh, semoga dengan membiarkan ayam minum di ember itu, Pengeran (Tuhan) ridha mencatatnya sebagai shodaqoh saya pada hari ini."
Mas Mul terhentak dengan jawaban Kang Ndoro, yang begitu bijak. Sambil Mas Mul memuji Kang Ndoro, "Saya hari ini, mendapat ilmu yang luarbiasa dari Panjenengan, Kang."
Dengan tawadzu, Kang Ndoro membalas, "Sampean tentu lebih banyak beramal dibandingkan saya, yang hanya menunggu rupiah dari ban kendaran orang yang memgalami kebocoran." Sambil mulai membongkar, dan mengamati ban dalamnya dengan cermat.

Setelah selesai ban belakang ditambal, semua peralatan dipindah ke depan, untuk mengerjakan ban bagian depan. Usai diperiksa, ternyata bocornya di dekat spentil, namun kecil banget. Biasanya kalau tukang tambal ban yang amatir, dan orientasinya hanya keuntungan, pasti langsung minta ganti ban dalam yang baru.
Kaang Ndoro pun menyampaikan ke Mas Mul, "Saya akan akalin dahulu, ya Mas Mul? supaya tidak perlu ganti ban baru."
Jawab Mas Mul, "Emang bisa?"
Kang Ndoro, "Dicoba dahulu, kalau gagal baru Panjenengan ganti."
Mas Mul, "Saya manut Sampean, Kang."
Ternyata Kang Ndoro sukses, mengakalinya dengan sempurna.
Kang Ndoro, "Sudah, Mas Mul. Ban belakang dan depan, total bocornya dua."
Tanya Mas Mul, "Semuanya berapa?"
Jawab Kang Ndoro, "Dua puluh ribu, Mas."
Mas Mul bayar lima puluh ribu ke Kang Ndoro. Dengan maksud, lebihnya buat shodakoh ke Kang Ndoro. Namun,
Kang Ndoro tetap mengembalikan lebihnya.
Harapan Mas Mul, "Hari ini sangat berharga, dapat ilmu dari Sampean dan tidak perlu ganti ban dalam depan. Sudah wajar, kalau Sampean terima sisanya Kang Ndoro."
Sambil mengembalikan kembali uang kembaliannya ke Mas Mul, jawab Kang Ndoro, "Saya hanya melakukan yang teringan dan bermanfaat, Mas Mul."
Mas Mul makin tertunduk malu, dan kalah sinar bijak dari tukang tambal ban, sambil berucap "Agunging panuwun Kang Ndoro, semoga senantiasa berkah."

Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara

Sebelum Islam masuk ke wilayah Melayu Nusantara, khazanah keilmuan yang terekam dalam berbagai naskah  hingga manuskrip masih dipengaruhi ol...